Hujan belum berhenti. Gerimisnya serasa mengiris setiap jengkal tanah. Aku ingat cerita tentang seorang gadis yang selalu menghitung hujan yang diceritakan oleh ibuku hingga akhirnya gadis itu mati saat mencoba menemukan bilangan yang tepat untuk hujan yang telah melewati banyaknya angka di dunia. Hujan melebihi banyakanya angka. Banyaknya manusia. Banyaknya cacing. Banyaknya intan.
Hujan yang dulu kurasakan di kampungku ternyata masih sama rasanya saat aku rasakan hujan di negeri asing ini.
Aku takut mungkin hujan tidak seramah saat aku masih anak-anak. Saat aku masih bisa telanjang di bawah hujan. Saat aku masih dipanggil bukan dengan nama depanku. Saat aku masih belajar untuk tidak menyerah pada satu lipatan yang terlewat. Saat aku masih suka dipangku sebelum tidur oleh ibuku.
Aku keluarkan barang-barang yang aku bawa dari Indonesia. Mencoba menatanya di rumah kami yang hampir berdinding putih semua. Padahal sebelum menikah, aku memiliki angan-angan untuk mempunyai rumah yang berwarna kuning dan memiliki warna cat yang berbeda pada setiap ruangan. Tapi angan-anganku tidak bisa terpenuhi di sini. Aku takut mengutarakannya pada suamiku. Dia pasti akan menyetujui tapi tetap saja aku tidak berani menyatakannya.
Akhir-akhir ini aku perhatikan dia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan dia hanya tersenyum tipis dan hanya menggenggam tanganku sesaat sambil menatap wajahku setiap aku antarkan kopi ke ruangannya setelah itu dia sibuk mengetik atau membuka file-file pekerjaannya.
Aku? Pekerjaan yang aku impikan kutinggalkan di Indonesia. Orang tuaku sempat ragu akan keputusanku dengan meninggalkan pekerjaan yang dikatakan sangat layak bagiku orang sepertiku. Fasilitas dan jaminan seumur hidup dari pekerjaanku rela aku tinggalkan demi mengikuti suamiku yang bukan warga negara Indonesia. Aku tidak pernah menyesal dan aku tidak mau menyesal.
Aku belum menjadi seorang ibu. Dia mengerti ketakutanku. Aku katakan padanya aku belum bisa menyesuaikan diri. Aku mendengar dari teman-temanku yang juga seperti aku, bahwa mengandung dan melahirkan tanpa ibu disamping sangat merepotkan.
Aku pergi ke dapur. Menuang segelas teh untuk diriku sendiri. Kubuka tirai jendela dapur dan kubiarkan cahaya lampu halaman belakang rumah kami masuk.
Aku menghirup teh yang diberikan ibuku saat aku akan kembali di sini. Bagiku, teh disini sangat berbeda dengan teh Indonesia. Aromanya, uapnya, rasanya, hingga wajah-wajah pemetik teh di perkebuanan teh terlintas dalam pikiranku.
Aku biarkan televisi dapur menyiarkan berita tentang negeri ini. Aku masih dalam tahap belajar untuk mempelajari bahasa nasional mereka. Suamiku mengajari dua bahasa sekaligus padaku yang sering digunakan di negera ini. Tapi aku memilih untuk mempelajari lebih banyak bahasa yang digunakan keluarga suamiku. Semanya tidak mudah. Saat aku diperkenalkan dengan teman-temannya, aku menggunakan bahasa resmi lainnya.
Aku menghirup teh untuk yang kedua kali. Mengingatkanku pada teman-temanku. Teman-temanku saat di taman bermain, saat di sekolah dasar, saat di sekolah menengah pertama, saat sekolah menengah atas, saat di universitas, saat organisasi, saat aku mengambil magister, saat aku bekerja, dan aku mulai berusaha terbiasa untuk mengingat nama teman-teman baruku di sini sekaligus mengingat nama keluarga mereka di sini. Aku masih sering salah mengucapkan nama mereka. Jika aku menceritakan mereka, suamiku selalu membetulkan ejaan-ejaan nama mereka yang selalu membuat dia tersenyum dahulu. Waktu aku memutuskan meninggalkan semuanya, aku teringat beberapa temanku yang terkejut dan tidak berhenti-hentinya mengingatkanku untuk memikirkan ulang apa yang akan aku putuskan, menikah dan pergi jauh. Hanya beberapa temanku justru mendukungku, mereka tidak lagi terkejut karena dia mengetahui karakterku, suka mengambil risiko dan mencoba semuanya. Hujan semakin deras di luar. Pohon palem di pinggir jalan mengikuti arah angin dan lampu jalan yang berkurang terangnya akibat hujan yang tidak mau mengalah.
Aku menghirup teh untuk ketiga kalinya, kali ini aku meneguk sebanyak dua kali. Diam-diam aku teringat pada seseorang yang pernah membawakanku payung pada waktu hujan. Kala itu, aku baru saja selesai wawancara dari sebuah kantor yang membuka lowongan pekerjaan. Dengan map yang penuh hasil penelitianku dan curriculum vitae aku tetap bersikeras untuk menunggu bis di seberang jalan. Saat aku mulai menerobos jalan dan memeluk erat mapku tiba-tiba aku merasa hujan tidak lagi menerjangku. Aku tengadahkan kepalaku dan kulihat dia memegang payung abu-abu sambil tersenyum dan berkata untuk menyebrag bersama. Di halte saat itu hanya ada tiga orang anak sekolah yang juga menunggu bis. Dia membuka percakapan. Menanyakan tujuanku dan sebab aku bersikeras menyebrang. Aku berterima kasih sebelumnya, aku mau ke kampus karena ada kelas sore untuk magisterku, dan aku akan terlambat. Jawabanku membuatnya mengangguk tanda mengerti namun tidak untuk hujan. Hujan semakin deras dan semakin menerjang ke arah kami berdiri walaupun kami sudah mundur dan menempel pada dinding halte. Dia berkata bahwa tidak mungkin untukku tetap ke kampus dengan kondisi yang basah seperti ini dan sore yang sangat gelap. Akhirnya aku putuskan untuk menunggu hujan berhenti. Mengabaikan apa yang semua kutulis di agendaku pada hari ini. Kami berbicara tentang banyak hal. Film, musik, buku, hal-hal remeh yang kami benci, dan hal lainnya. Kami sama-sama menyukai senja namun alasan yang berbeda. Begitu banyak percakapan dalam satu kali hujan waktu itu. Saat hujan berhenti dan bis yang kutunggu pun datang kami pun memutuskan untuk berpisah dan berjanji akan bertemu lagi. Kami bertemu, mengobrol, beranjak pergi, dan berjanji untuk bertemu kembali. Begitu seterusnya. Hingga suatu hari, aku tidak bisa memenuhi janjiku untuk bertemu lagi karena saat yang bersamaan aku harus pergi keluar kota karena pekerjaanku. Kita mengganti tanggal kami bertemu. Ketika aku dalam perjalanan pulang kembali, sehari sebelumnya, dia mengirimkan pesan yang tidak dapat kupahami hingga sekarang. Dia tidak ingin menemuiku. Aku bersikeras. Aku butuh alasan. Aku butuh penjelasan. Aku berkata tetap menunggunya. Di tempat biasa. Dia tidak pernah datang. Dia mengganti nomor telepon dan menghilang. Aku berhenti menunggunya.
Aku reguk dan aku hirup tehku yang keempat kalinya. Tehku mulai mendingin. Dan saat yang bersamaan aku rasakan setetes air yang hangat menuruni pipiku. Aku teringat pada tangan dingin yang sealu mengusap air ini setiap kali turun. Setiap aku marah. Setiap aku kecewa pada kehidupan. Setiap aku merasa semuanya salah. Tangannya yang berbau rokok dan kurus. Deru napasnya yang satu-satu dan tenang saat aku terisak-isak.
Aku memutuskan untuk menghabiskan tehku kali ini. Kudengar langkah suamiku memasuki dapur. Cepat-cepat kuhapus air mataku, kubetulkan rambutku yang kujepit, dan kubetulkan cardiganku. Dia masuk dan bertanya apakah aku baik-baik saja. Dengan senyum aku katakan padanya aku hanya kedinginan. dia hanya tersenyum, memelukku hangat dari belakang, dan berkata bahwa aku akan terbiasa dan cuaca akan kembali normal besok. Aku beranjak. Berjalan dengannya. Dan meninggalkan teh yang tersisa mendingin sebelum hirupanku yang kelima. Ya, cuaca akan kembali normal besok.
Posted in linguae
Tags: linguae