aku belum membuang buku catatanku.

•March 29, 2009 • Leave a Comment

Dua hari lalu iseng-iseng aku bongkar kardus waktu pindahan yang gak sempat-sempat aku buka karena emang isinya buku-buku pelajaran SMA yang aku bawa karena aku pikir buku-buku itu pasti bakal berguna untuk SPMB tapi ternyata gak banyak yang aku pake ya..alasannya males bongkar ini itu. Tapi akhirnya aku bongkar juga eh..taunya nemu buku catatan pelajaran Bahasa Indonesia waktu kelas 3 SMA. Iseng-iseng aku buka..dan isinya ternyata ga cuma catatan pelajaran yang berkutat unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi, parafrase puisi, cara menulis lamaran pekerjaan, aturan-aturan imbuhan, dan lain-lainnya..tapi juga beberapa gambar, coretan yang dilakukan oleh Wendy, selain itu dia juga menulis nama yang ehm..ah, sudahlah. Sialan! Kali ini aku tidak akan terjerat untuk flash back lagi.
Di lembar akhir, jauh dari semua catatan aku temukan sebuah cerpen yang entah kenapa, asli aku lupa banget, kenapa bisa ada di halaman belakang. Aku juga lupa-lupa inget kapan aku tulis cerpen, alasannya apa, dan darimana inspirasinya dateng.
Setelah aku merasa cukup untuk menghadapi laporan seharian penuh ini, kali ini di atas tempat tidur ditemani dengan Brian May yang menyanyikan Too Much Love Will Kill You jadi pengen nulis ulang cerpen ini.

Mata Shakuntala

Seperti hari-hari sebelumnya aku selalu tiba paling awal di ruang kelasku. Rumahku cukup jauh dari sekolah sehingga aku harus berangkat seawal mungkin.
Masih kuingat, hari itu aku sedang menyapu ruang kelasku tiba-tiba seorang anak perempuan yang belum pernah kulihat masuk terburu-buru dan segera mengambil tempat duduk tepat disebelah bangkuku. Kelasku memang berjumlah hanya tiga puluh tujuh siswa dan aku lebih memilih duduk sendiri saja. Kulihat dengan seksama anak yang baru masuk itu. Dia terlalu asing bagiku. Matanya. Ada yang aneh dengan matanya. Entah apa itu.
Satu per satu teman-temanku datang dan dari jauh kuperhatikan, mereka mulai mengerebungi si anak baru itu. Ketika bel berbunyi maka kerumunan itu pun bubar. Aku duduk dengan segan disampingnya. Baru kali ini aku merasa asing dengan bangku yang telah kutempati selama satu semester ini.
Aku mencoba memulai percakapan dengannya tapi selalu saja gagal. Hingga akhirnya, dia tiba-tiba berkata, “Seruni, siap-siap” Seruni? Bagaimana dia tahu namaku? Apa maksudnya dengan siap-siap? “Seruni!” terdengar suara Bu Julia mengagetkanku. “Kerjakan nomor enam di depan.” Masih dengan perasaan heran bercampur kaget, aku menyelesaikan tugas yang diberikan Bu Julia padaku. Saat aku kembali duduk kulihat senyuman samar gadis asing itu. Akhirnya, kuberanikan diri untuk berkenalan dengan gadis itu, “Tala, Shakuntala” dia menyebut namanya. Itulah awal perkenalanku dengannya.
Shakuntala dan aku tidak pernah berpisah. Kami menjadi sahabat dekat bahkan bayangan satu sama lain. Yang membuatku kaget adalah bahwa Tala bisa meramal. Tapi dia ingin menyembunyikan kelebihannya itu dari siapa pun.
Pantas saja waktu hari pertama dia tahu kalau aku bakal dipanggil ke depan.
Pernah kutanya mengapa dia menyembunyikan kelebihannya itu, dia menjelaskan bahwa apabila orang mengetahui kelebihannya maka dia akan dimanfaatkan oleh siapapun. Di sekolahnya dulu teman-temannya selalu memaksa untuk meramal apapun yang berdampak buruk pada fisik dan batinnya. Dia selalu merasa capek dan tertekan setiap sehabis meramal. Itu pula salah satu alasan dia pindah ke sekolahku. Sejak itu aku tidak berani menyinggung kelebihannya.
Di lain kesempatan aku bertanya padanya apa yang membuatku dia percaya padaku untuk memberitahu tentang kemampuannya meramal. Dia menjawab dengan tenang, “Kamu lupa aku bisa meramal?” yang kubalas dengan senyuman.

•March 23, 2009 • 2 Comments

29 Oktober 2006

Apakah kata-kataku sudah habis dari perasalannya?
Ketika dia hanya selalu menyajikan secuplik yang membuatku terbentur

Dalam gelap aku memeluk erat diammu

Kuhentikan semua gaung yang erat dan kokoh
Sekali lagi tentangmu

Mungkin akan aku bayar di senja lain

Atau tidak akan aku jemput senja yang sama-sama kita janjikan.

***

Kala itu senja masihlah kering
Tangga-tangga rintih pun masih penuh serakan daun

Laut juga masih sama
Biru
Masih berdebur-debur
Juga

Mana senja yang kau janjikan?

***

Aku masih berbicara tentang dia
Ketika aku mulai menyeruput hangatnya
Sedikit demi sedikit

Sentakan halus membuatku kelu
Untuk meneruskan semuanya

Cuma disatu senja itu

Dan besok menjadi senja yang asing
Lagi

***

Aku hitung senja yang telah aku korbankan untukmu
Bukan
Senja itu sengaja kulahirkan
Dari rahim keriuhanku
Lalu kutebak
Akan kau jemput
Yang kukira lagi
Pasti
Kau sambut
Dengan suara berat
Khasmu
***
Kita mungkin lengah
Seperti biasa

Pagi yang sama
Sempat aku tunggu
Saat mulai riak-riak yang mengganggu tidurmu semalam

Kapan?
Saat senja hanya dengan jingganya yang menggantung

Atau aku saja?
Sekali lagi kamu tidak ikut.
***

Ketika Hujan

•March 23, 2009 • 1 Comment

Hujan belum berhenti. Gerimisnya serasa mengiris setiap jengkal tanah. Aku ingat cerita tentang seorang gadis yang selalu menghitung hujan yang diceritakan oleh ibuku hingga akhirnya gadis itu mati saat mencoba menemukan bilangan yang tepat untuk hujan yang telah melewati banyaknya angka di dunia. Hujan melebihi banyakanya angka. Banyaknya manusia. Banyaknya cacing. Banyaknya intan.

Hujan yang dulu kurasakan di kampungku ternyata masih sama rasanya saat aku rasakan hujan di negeri asing ini.

Aku takut mungkin hujan tidak seramah saat aku masih anak-anak. Saat aku masih bisa telanjang di bawah hujan. Saat aku masih dipanggil bukan dengan nama depanku. Saat aku masih belajar untuk tidak menyerah pada satu lipatan yang terlewat. Saat aku masih suka dipangku sebelum tidur oleh ibuku.

Aku keluarkan barang-barang yang aku bawa dari Indonesia. Mencoba menatanya di rumah kami yang hampir berdinding putih semua. Padahal sebelum menikah, aku memiliki angan-angan untuk mempunyai rumah yang berwarna kuning dan memiliki warna cat yang berbeda pada setiap ruangan. Tapi angan-anganku tidak bisa terpenuhi di sini. Aku takut mengutarakannya pada suamiku. Dia pasti akan menyetujui tapi tetap saja aku tidak berani menyatakannya.

Akhir-akhir ini aku perhatikan dia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan dia hanya tersenyum tipis dan hanya menggenggam tanganku sesaat sambil menatap wajahku setiap aku antarkan kopi ke ruangannya setelah itu dia sibuk mengetik atau membuka file-file pekerjaannya.

Aku? Pekerjaan yang aku impikan kutinggalkan di Indonesia. Orang tuaku sempat ragu akan keputusanku dengan meninggalkan pekerjaan yang dikatakan sangat layak bagiku orang sepertiku. Fasilitas dan jaminan seumur hidup dari pekerjaanku rela aku tinggalkan demi mengikuti suamiku yang bukan warga negara Indonesia. Aku tidak pernah menyesal dan aku tidak mau menyesal.

Aku belum menjadi seorang ibu. Dia mengerti ketakutanku. Aku katakan padanya aku belum bisa menyesuaikan diri. Aku mendengar dari teman-temanku yang juga seperti aku, bahwa mengandung dan melahirkan tanpa ibu disamping sangat merepotkan.

Aku pergi ke dapur. Menuang segelas teh untuk diriku sendiri. Kubuka tirai jendela dapur dan kubiarkan cahaya lampu halaman belakang rumah kami masuk.

Aku menghirup teh yang diberikan ibuku saat aku akan kembali di sini. Bagiku, teh disini sangat berbeda dengan teh Indonesia. Aromanya, uapnya, rasanya, hingga wajah-wajah pemetik teh di perkebuanan teh terlintas dalam pikiranku.

Aku biarkan televisi dapur menyiarkan berita tentang negeri ini. Aku masih dalam tahap belajar untuk mempelajari bahasa nasional mereka. Suamiku mengajari dua bahasa sekaligus padaku yang sering digunakan di negera ini. Tapi aku memilih untuk mempelajari lebih banyak bahasa yang digunakan keluarga suamiku. Semanya tidak mudah. Saat aku diperkenalkan dengan teman-temannya, aku menggunakan bahasa resmi lainnya.

Aku menghirup teh untuk yang kedua kali. Mengingatkanku pada teman-temanku. Teman-temanku saat di taman bermain, saat di sekolah dasar, saat di sekolah menengah pertama, saat sekolah menengah atas, saat di universitas, saat organisasi, saat aku mengambil magister, saat aku bekerja, dan aku mulai berusaha terbiasa untuk mengingat nama teman-teman baruku di sini sekaligus mengingat nama keluarga mereka di sini. Aku masih sering salah mengucapkan nama mereka. Jika aku menceritakan mereka, suamiku selalu membetulkan ejaan-ejaan nama mereka yang selalu membuat dia tersenyum dahulu. Waktu aku memutuskan meninggalkan semuanya, aku teringat beberapa temanku yang terkejut dan tidak berhenti-hentinya mengingatkanku untuk memikirkan ulang apa yang akan aku putuskan, menikah dan pergi jauh. Hanya beberapa temanku justru mendukungku, mereka tidak lagi terkejut karena dia mengetahui karakterku, suka mengambil risiko dan mencoba semuanya. Hujan semakin deras di luar. Pohon palem di pinggir jalan mengikuti arah angin dan lampu jalan yang berkurang terangnya akibat hujan yang tidak mau mengalah.

Aku menghirup teh untuk ketiga kalinya, kali ini aku meneguk sebanyak dua kali. Diam-diam aku teringat pada seseorang yang pernah membawakanku payung pada waktu hujan. Kala itu, aku baru saja selesai wawancara dari sebuah kantor yang membuka lowongan pekerjaan. Dengan map yang penuh hasil penelitianku dan curriculum vitae aku tetap bersikeras untuk menunggu bis di seberang jalan. Saat aku mulai menerobos jalan dan memeluk erat mapku tiba-tiba aku merasa hujan tidak lagi menerjangku. Aku tengadahkan kepalaku dan kulihat dia memegang payung abu-abu sambil tersenyum dan berkata untuk menyebrag bersama. Di halte saat itu hanya ada tiga orang anak sekolah yang juga menunggu bis. Dia membuka percakapan. Menanyakan tujuanku dan sebab aku bersikeras menyebrang. Aku berterima kasih sebelumnya, aku mau ke kampus karena ada kelas sore untuk magisterku, dan aku akan terlambat. Jawabanku membuatnya mengangguk tanda mengerti namun tidak untuk hujan. Hujan semakin deras dan semakin menerjang ke arah kami berdiri walaupun kami sudah mundur dan menempel pada dinding halte. Dia berkata bahwa tidak mungkin untukku tetap ke kampus dengan kondisi yang basah seperti ini dan sore yang sangat gelap. Akhirnya aku putuskan untuk menunggu hujan berhenti. Mengabaikan apa yang semua kutulis di agendaku pada hari ini. Kami berbicara tentang banyak hal. Film, musik, buku, hal-hal remeh yang kami benci, dan hal lainnya. Kami sama-sama menyukai senja namun alasan yang berbeda. Begitu banyak percakapan dalam satu kali hujan waktu itu. Saat hujan berhenti dan bis yang kutunggu pun datang kami pun memutuskan untuk berpisah dan berjanji akan bertemu lagi. Kami bertemu, mengobrol, beranjak pergi, dan berjanji untuk bertemu kembali. Begitu seterusnya. Hingga suatu hari, aku tidak bisa memenuhi janjiku untuk bertemu lagi karena saat yang bersamaan aku harus pergi keluar kota karena pekerjaanku. Kita mengganti tanggal kami bertemu. Ketika aku dalam perjalanan pulang kembali, sehari sebelumnya, dia mengirimkan pesan yang tidak dapat kupahami hingga sekarang. Dia tidak ingin menemuiku. Aku bersikeras. Aku butuh alasan. Aku butuh penjelasan. Aku berkata tetap menunggunya. Di tempat biasa. Dia tidak pernah datang. Dia mengganti nomor telepon dan menghilang. Aku berhenti menunggunya.

Aku reguk dan aku hirup tehku yang keempat kalinya. Tehku mulai mendingin. Dan saat yang bersamaan aku rasakan setetes air yang hangat menuruni pipiku. Aku teringat pada tangan dingin yang sealu mengusap air ini setiap kali turun. Setiap aku marah. Setiap aku kecewa pada kehidupan. Setiap aku merasa semuanya salah. Tangannya yang berbau rokok dan kurus. Deru napasnya yang satu-satu dan tenang saat aku terisak-isak.

Aku memutuskan untuk menghabiskan tehku kali ini. Kudengar langkah suamiku memasuki dapur. Cepat-cepat kuhapus air mataku, kubetulkan rambutku yang kujepit, dan kubetulkan cardiganku. Dia masuk dan bertanya apakah aku baik-baik saja. Dengan senyum aku katakan padanya aku hanya kedinginan. dia hanya tersenyum, memelukku hangat dari belakang, dan berkata bahwa aku akan terbiasa dan cuaca akan kembali normal besok. Aku beranjak. Berjalan dengannya. Dan meninggalkan teh yang tersisa mendingin sebelum hirupanku yang kelima. Ya, cuaca akan kembali normal besok.

Kadar Kader yang Bikin Keder

•November 8, 2008 • 1 Comment

 

S

aya minta maaf pada pihak-pihak yang tersinggung pada hari Rabu tepatnya tanggal 5 November 2008 kemarin.Tapi memang sengaja sih. Wajar saja bagi mereka yang tersinggung jika memang salah ya saya ucapkan selama tersinggung.

 

Begini kronologisnya.

 

Di kampus saya ada tradisi untuk para mahasiswa baru. Tradisinya macam-macam dengan misi MENGKADER PARA MAHASISWA BARU. Entah yang saya tahu, pengkaderan yang saya dapat dari jurusan saya benar-benar membuat saya terkeder-keder lah…selama setahun.

Lanjut, nanti saya akan bercerita tentang saya. Salah satu fakultas di kampus saya punya tradisi untuk mabanya-istilah untuk mahasiswa baru-yaitu supaya memakai baju hitam putih selama setahun dilengkapi pita-pita di lengan mereka. Katanya lagi sih untuk, identitas. Ada juga fakultas yang bertradisi memakai baju ungu selama setahun, namun banyak jurusan yang memilih pita sebagai identitasnya.

Saya sebenarnya merasa risih juga melihat tradisi itu. Tapi kalau dipikr-pikir, untuk apa risih ya? Lha wong gak ada hubungannya sama saya kok. Bukan saya juga yang dikader. Tapi saya merasa empati saja. Saya tahu rasanya. Itu intinya.

Akhirnya, saya dan salah seorang teman saya yang memiliki kadar kemurian kegilaan yang kurang lebih sama dengn saya memutuskan memakai baju hitam putih yang telah sangat identik di kepala setiap mahluk di kampus saya, bahwa baju hitam putih selalu identik dengan anak dari fakultas A, sebut saja begitu.

Hingga tibalah saat kami datang di kampus dengan tema baju hitam putih dan juga pita yang kita ikatkan di pinggang yang berwarna hitam putih. Respon pertama dari mereka yang maba-mereka suka duduk berkumpul di depan jalan masuk kampusnya-yang terlihat bingung, yah mungkin mereka pikir jurusan apa lagi ini???lalu selanjutnya menuju kelas, respon yang diperoleh adalah berupa sentilan yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

 

  • Kenapa kalian berpakaian seperti anak dari fakultas A saja? Sebesar 45%
  • Wah, kayak mau seminar atau ujian meja saja, kapan makan-makanya nih?Sebesar 35%
  • Dasar gila kalian dua orang ini!!Ada-ada saja?Sebesar 15%
  • Dan lain-lain (termasuk hanya geleng-geleng kepala, melihat tanpa berkedip,berbisik dengan teman disampingnya lalu melihat ke arah kami, dsb)Sebesar 5%

 

Bukan tanpa alasan kami melakukan hal ini. Sebenarnya, bagi mereka yang paham ada maksud yang ingin kami sampaikan dalam misi via fashion kami kali ini. Pertama, kami ingin menyampaikan bahwa kami masih menjunjung tinggi kebebasan berekspresi termasuk warna apa yang kami pakai, model apa yang kami pakai. Kedua kami ingn membuktikan apakah warna ini masih milik umum, ternyata di kampus saya bagi banyak orang, dua warna ini dalam pakaian telah menjadi suatu ciri khas bagi anak-anak A. Untungnya belum dipatenkan. Ketiga, kami menolak semua ketidaksetaraan. Terserah untuk yang ini mereka mau bilang apa?

 

Mengenai pita  yang memang kami pilih hitam putih kami sampaikan bahwa kami tidak mengikuti siapapun darimana pun.

 

Perjalanan selama setahun pertama memang membuat saya wah..kalimat apa yang cocok ya??yang tidak menyinggung pihak manapun namun sesuai dengan yang sebenarnya?

Saya hanya mengatasnamakan pribadi lho ya. Jangan Tanya identitas saya. Jangan Tanya pengkaderan saya, biar saya simpan saja sendiri. Sekali lagi, jangan tanya saya anak mana. Nilai saja tulisan saya.

ketemu di folder lama*tulisan waktu SMA*

•November 3, 2008 • 3 Comments

D

ebu di sandal putihku membuat kakiku lengket. Rambutku juga telah terurai sedikit demi sedikit dari jepit biru yang kubeli bersama sahabat-sahabatku setahun yang lalu. Sekali lagi kutatap matahari yang terhalang dari kabut asap dan tampak seperti buah jeruk, bulat dan oranye, tanpa cahaya yang berpendar di sekelilingnya.

 

Aku sudah mau pulang ketika Wendy mulai melambaikan tangan dan menyebrangi jalan. Aku menunduk sedikit ketika memasuki angkot yang hanya diisi oleh empat orang. Angkot mulai meninggalkan deru saat aku mulai nyaman dengan dudukku. Sekali lagi aku mendengar orang mengeluh tentang cuaca saat ini. Yang tidak dapat dipastikan karena semua langit tampak abu-abu dengan asap yang sekalipun cahaya matahari tidak dapat menembusnya.

 

Angkot yang kutumpangi mulai memasuki daerah pelabuhan. Dengan pesisir yang mulai surut. Angkot pun tiba-tiba berhenti disusul seorang ibu dan anaknya, yang dapat kupastikan baru saja selesai mengeriting rambutnya karena bau atau wangi vitamin rambutnya menyeruap memenuhi atmosfir di angkot itu. Berjalan sedikit sekitar sepuluh meter. seorang ibu menghentikan angkot ini dan segera dia menggiring keempat anaknya yang masih kecil semua untuk masuk dan segera saja semua ruang kosong di angkot ini penuh oleh mereka dan riuh yang mereka ciptakan.

 

Ternyata ibu itu juga menggendong anaknya yang aku pastikan yang kelima yang masih berumur sekitar delapan hingga sepuluh bulan. Aku mulai mengamati satu per satu mereka. Yang pertama, seorang perempuan berumur sekitar sembilan tahun, rambutnya panjang, tipis, kemerah-merahan, gigi-giginya nampak besar dan jarang, kulitnya tampak gelap kecokletan dan dia terus mengoceh mengenai kapal yang membawa ayahnya yang baru saja berangkat. Yang kedua laki-laki, berumur sekitar delapan tahun, rambutnya dipotong cepak, dengan satu dua luka baret di tangannya yang mungkin dikarenakan ia yang aku pikir sering main di mana saja, dia memakai kemeja oranya kecokletan dan celana jeans, dia tidak pernah menyahut atau menanggapi riuh semua saudaranya yang dia lakukan hanya menatap keluar dari jendela di sampingnya. Anak ibu muda itu yang ketiga juga seorang laki-laki yang bergigi jarang, umurnya mungkin sekitar enam tahun, air matanya belumlah kering, dengan kaos power rangers warna biru laut dia menanggapi serius ocehan kakaknya yang kali ini telah berganti topik, kali ini mengenai baju baru untuk lebaran, masih dengan sedikit terisak dia mengamini ocehan kakaknya dengan mengatakan bahwa dia ingin sandal baru untuk lebaran yang modelnya hommyped. Adiknya yang merupakan anak keempat, mungkin masih lima tahun, tidak ingin kalah dengan saudara-saudara tuanya, dia juga menginginkan sepatu yang dia sebut sepatu ada bunyinya dan juga berlampu kelap-kelip di bawahnya, dia tidaklah terlalu berbeda dengan si sulung, dia juga bergigi jarang tetapi kecil-kecil, rambutnya yang juga tipis kemerah-merahan dikuncir erat dengan karet sayur, tangannya masih kotor dan terlihat lelehan cokelat di tangan kanan maupun kirinya, sembari diam-diam dia menatapku penasaran. Sedangkan disampingku sang Ibu muda yang tengah memangku bayinya hanya mengangguk perlahan sembari tersenyum. Bayinya yang kuketahui namanya dari si sulung saat menggodanya, Diva, mulai menarik-narik tas kanvas hitam yang ada di pangkuanku. Sesaat aku ragu tapi segera kuraih tangan mungilnya dan kutatap dalam-dalam mata besar si bayi Diva yang terus menatap ingin tahu padaku. Si Ibu Muda menoleh dan tersenyum padaku, aku sadar si bayi Diva mempunyai mata yang sangat besar, pipinya sangat cekung, ditambah lagi rambutnya yang tipis kemerah-merahan membuat kulit kepalanya masih terlihat samar.

 

Tidak terasa angkot telah sampai di persimpangan biasa aku berhenti. Aku merasa punggungku lekat ditatap oleh mereka, si Ibu Muda dan anak-anaknya. Aku telah sampai dan mereka harus terus melanjutkan perjalanannya untuk sampai ke rumah mereka hampir seperti aku yang harus berjalan sedikit untuk mencapai rumahku di sore yang akan semakin menyembunyikan matahari jeruk itu lagi.

 

 

16 Oktober 2006

simplex

•October 25, 2008 • 2 Comments

Saturday Night Fever, You In it?

 

Apa sih Saturday Night Fever? Haha..ini sebutan saya untuk bermalas-malasan di malam sabtu. Mulai dari paginya hanya melakukan yang perlu-perlu saja. Setelah itu megecek agenda. Apa yang harus dilakukan. Mengerjakan laporan, jurnal, tugas pendahuluan lab, atau power point untuk diskusi hari senin… terlalu malas untuk itu semua.

 

Get your free time…

 

Hari ini saya hadiahi diri saya film Persepolis. A really very right choice.

 

Marji kecil dan percaya bahwa dia adalah nabi. Bercakap-cakap dengan Tuhan sebelum tidur. Menganggap bahwa dia pembawa kedamaian. Mengidolakan Bruce Lee. Semuanya indah. Tapi memburuk saat terjadi revolusi Iran. No party, no alcohol, and no art. Yang membuat orang tuanya mengirim di ke Vienne, Austria. Membuat dia harus beradaptasi dan belajar mencintai dari mana dia berasal. Membuat dia jatuh cinta. Membuat dia patah hati. Membuat dia terluntang-lantung hingga akhirnya terkena penyakit paru yang parah dan kembali ke Iran dengan janji bahwa orang tuanya tidak boleh menanyakan apapun tentangnya selama dia di Vienne, Austria.

 

Saya tidak pernah mengalami waktu konflik semengerikan itu. Saya harus besyukur. Ya, saya sudah bersyukur. Berapa mimpi yang dibunuh oleh sebuah konflik? Berapa nyawa yang hilang demi sebuah gagasan seseorang. Akarnya dari seseorang, kan?

 

Yang membat saya tersenyum adalah saat Marji dan keluarganya tetap bisa bersenang-senang selama konflik. Setidaknya jika mati, mereka tidak mati konyol menunggu di basement untuk di bom. Marji tetap bisa mendengarkan Iron Maden. Teman-temannya juga masih bsa mendengarkan ABBA, Bee Gees. Orang tuanya juga masih bisa mengonsumsi alcohol. Dengan pamannya yang meracik di laboratorium bawah tanah.

 

Yeah, live your life.

 

Wow..apakah saya semakin menyimpang dari Saturday Night Fever?

 

Yeah..seems party just begin now…so live your life…like me or like Marji.