Dua hari lalu iseng-iseng aku bongkar kardus waktu pindahan yang gak sempat-sempat aku buka karena emang isinya buku-buku pelajaran SMA yang aku bawa karena aku pikir buku-buku itu pasti bakal berguna untuk SPMB tapi ternyata gak banyak yang aku pake ya..alasannya males bongkar ini itu. Tapi akhirnya aku bongkar juga eh..taunya nemu buku catatan pelajaran Bahasa Indonesia waktu kelas 3 SMA. Iseng-iseng aku buka..dan isinya ternyata ga cuma catatan pelajaran yang berkutat unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi, parafrase puisi, cara menulis lamaran pekerjaan, aturan-aturan imbuhan, dan lain-lainnya..tapi juga beberapa gambar, coretan yang dilakukan oleh Wendy, selain itu dia juga menulis nama yang ehm..ah, sudahlah. Sialan! Kali ini aku tidak akan terjerat untuk flash back lagi.
Di lembar akhir, jauh dari semua catatan aku temukan sebuah cerpen yang entah kenapa, asli aku lupa banget, kenapa bisa ada di halaman belakang. Aku juga lupa-lupa inget kapan aku tulis cerpen, alasannya apa, dan darimana inspirasinya dateng.
Setelah aku merasa cukup untuk menghadapi laporan seharian penuh ini, kali ini di atas tempat tidur ditemani dengan Brian May yang menyanyikan Too Much Love Will Kill You jadi pengen nulis ulang cerpen ini.
Mata Shakuntala
Seperti hari-hari sebelumnya aku selalu tiba paling awal di ruang kelasku. Rumahku cukup jauh dari sekolah sehingga aku harus berangkat seawal mungkin.
Masih kuingat, hari itu aku sedang menyapu ruang kelasku tiba-tiba seorang anak perempuan yang belum pernah kulihat masuk terburu-buru dan segera mengambil tempat duduk tepat disebelah bangkuku. Kelasku memang berjumlah hanya tiga puluh tujuh siswa dan aku lebih memilih duduk sendiri saja. Kulihat dengan seksama anak yang baru masuk itu. Dia terlalu asing bagiku. Matanya. Ada yang aneh dengan matanya. Entah apa itu.
Satu per satu teman-temanku datang dan dari jauh kuperhatikan, mereka mulai mengerebungi si anak baru itu. Ketika bel berbunyi maka kerumunan itu pun bubar. Aku duduk dengan segan disampingnya. Baru kali ini aku merasa asing dengan bangku yang telah kutempati selama satu semester ini.
Aku mencoba memulai percakapan dengannya tapi selalu saja gagal. Hingga akhirnya, dia tiba-tiba berkata, “Seruni, siap-siap” Seruni? Bagaimana dia tahu namaku? Apa maksudnya dengan siap-siap? “Seruni!” terdengar suara Bu Julia mengagetkanku. “Kerjakan nomor enam di depan.” Masih dengan perasaan heran bercampur kaget, aku menyelesaikan tugas yang diberikan Bu Julia padaku. Saat aku kembali duduk kulihat senyuman samar gadis asing itu. Akhirnya, kuberanikan diri untuk berkenalan dengan gadis itu, “Tala, Shakuntala” dia menyebut namanya. Itulah awal perkenalanku dengannya.
Shakuntala dan aku tidak pernah berpisah. Kami menjadi sahabat dekat bahkan bayangan satu sama lain. Yang membuatku kaget adalah bahwa Tala bisa meramal. Tapi dia ingin menyembunyikan kelebihannya itu dari siapa pun.
Pantas saja waktu hari pertama dia tahu kalau aku bakal dipanggil ke depan.
Pernah kutanya mengapa dia menyembunyikan kelebihannya itu, dia menjelaskan bahwa apabila orang mengetahui kelebihannya maka dia akan dimanfaatkan oleh siapapun. Di sekolahnya dulu teman-temannya selalu memaksa untuk meramal apapun yang berdampak buruk pada fisik dan batinnya. Dia selalu merasa capek dan tertekan setiap sehabis meramal. Itu pula salah satu alasan dia pindah ke sekolahku. Sejak itu aku tidak berani menyinggung kelebihannya.
Di lain kesempatan aku bertanya padanya apa yang membuatku dia percaya padaku untuk memberitahu tentang kemampuannya meramal. Dia menjawab dengan tenang, “Kamu lupa aku bisa meramal?” yang kubalas dengan senyuman.
