Setelah memasak dan makan siang, saya putuskan membuat susu coklat. Hujan dari kemarin tidak berhenti, berhenti hanya untuk beberapa menit setelah itu eh hujan lagi, semakin deras malah.
Dengan lagu-lagu Colbie Caillat yang baru saya download, saya duduk termenung sendiri. Entah apa yang saya pikirkan, tiba-tiba ponsel saya berbunyi, sms dari kakak saya yang mengingatkan untuk menjahit kebaya. Saya memang dikenal paling malas urusan kayak beginian, aku hanya membalas ya, besok mungkin. Pernikahan sepupuku semakin dekat.
Saya jadi teringat dengannya. Sepupu saya itu, seangkatan dengan saya, namun dua tahun lebih mda dari saya. Kok bisa? Iyalah, saya kan lambat masuk SD, sedangkan dia gak pake TK. Tapi di saat umurnya yang akan 20 tahun ini, dia memutuskan untuk menikah. Wow.
Tiba-tiba saya memikirkan sebuah pernikahan. Bagaimana menikah di usia semuda itu? Itu yang selalu saya pikirkan. Bagaimana menjadi ibu di usia semuda itu? Padahal, resiko negatif kehamilan di usia muda sangat tinggi. Entahlah.
Saya meneguk coklat panas saya sebelum mendingin. Lidah saya terasa terbakar. Saya teringat waktu kecil, saya sering mengimpikan pernikahan yang meriah. Dengan gaun putih, kue tart besar, kado-kado, dan ucapan selamat. Hari pernikahan merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh semua orang, terutama anak perempuan yang merasa, bahwa itulah saat-saat dimana dia adalah wanita tercantik di dunia. Menjelang remaja, saya mulai menyusun ulang konsep pernikahan di mata saya. Bagi saya, pernikahan harus dilandasi cinta, saling pengertian, dan semua sifat-sifat ideal lainnya. Kini saat saya mulai bisa mengkritisi sesuatu, saya berpendapat pernikahan adalah perjanjian seumur hidup, pilihan subjek yang pertama dan terakhir dengan siapa kamu akan menghabiskan hidupmu. Pilihan tentang siapa yang kamu putuskan untuk kamu lihat pertama kali saat terbangun dari tidur, pilihan tentang nama siapa yang akan kamu tulis di belakang namamu, pilihan tentang siapa yang akan kamu lihat seharian, besok, lusa, dan hingga harimu habis, pilihan tentang siapa yang akan kamu pilihkan motif kemeja, pilihan tentang siapa yang akan kamu buatkan kopi di sore hari, pilihan tentang siapa yang akan kamu patuhi, dan pilihan tentang siapa yang akan memberikan pemikirannya padamu.
Untuk menjadi bagian dari hidup seseorang, saya tidak perlu sempurna. Ya, semua orang pasti setuju.
Karena ada yang berkata, pernikahan adalah proses melengkapi satu sama lain. Saya teringat pada seseorang yang pernah mengatakan, dia akan sempurna bagimu saat kamu bisa mengerti kekurangannya dan menerimanya, tidak hanya mengagumi kelebihannya.
Saya sering kecewa terhadap orang-orang yang sering mengingkari pilihannya sendiri. Mereka memilih seseorang hingga akhir semuanya, namun mereka semua menyerah pada suatu kondisi dan mereka akhirnya melupakan pilihan mereka. Apa yang terjadi? Pasti jawabannya, sudah tidak menemukan kecocokan. Hah, kecocokan apa yang kamu cari? Kamu hanya perlu menerima dia dan saling memahami, sesederhana itu. Begitukah? Ya.
Hujan sudah mereda dan minuman cokelat saya menghangat perlahan. Saya ucapkan selamat pada sepupu saya yang telah memutuskan pilihannya. Ya, selamat dan saya berbahagia juga. Ya,ya, saya juga akan segera menjahit kebaya saya.