<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Candikala's Blog</title>
	<atom:link href="http://candikala.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://candikala.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Dec 2010 18:26:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='candikala.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/52957130e87258832ef2d34283ae2d39?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Candikala's Blog</title>
		<link>http://candikala.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://candikala.wordpress.com/osd.xml" title="Candikala&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://candikala.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Saat hujan dengan cokelat panas</title>
		<link>http://candikala.wordpress.com/2010/12/06/saat-hujan-dengan-cokelat-panas/</link>
		<comments>http://candikala.wordpress.com/2010/12/06/saat-hujan-dengan-cokelat-panas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Dec 2010 18:26:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>candikala</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://candikala.wordpress.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Setelah memasak dan makan siang, saya putuskan membuat susu coklat. Hujan dari kemarin tidak berhenti, berhenti hanya untuk beberapa menit setelah itu eh hujan lagi, semakin deras malah. Dengan lagu-lagu Colbie Caillat yang baru saya download, saya duduk termenung sendiri. Entah apa yang saya pikirkan, tiba-tiba ponsel saya berbunyi, sms dari kakak saya yang mengingatkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=candikala.wordpress.com&amp;blog=5295026&amp;post=42&amp;subd=candikala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Setelah memasak dan makan siang, saya putuskan membuat susu coklat. Hujan dari kemarin tidak berhenti, berhenti hanya untuk beberapa menit setelah itu eh hujan lagi, semakin deras malah.</p>
<p style="text-align:center;">Dengan lagu-lagu Colbie Caillat yang baru saya download, saya duduk termenung sendiri. Entah apa yang saya pikirkan, tiba-tiba ponsel saya berbunyi, sms dari kakak saya yang mengingatkan untuk menjahit kebaya. Saya memang dikenal paling malas urusan kayak beginian, aku hanya membalas ya, besok mungkin. Pernikahan sepupuku semakin dekat.<br /> Saya jadi teringat dengannya. Sepupu saya itu, seangkatan dengan saya, namun dua tahun lebih mda dari saya. Kok bisa? Iyalah, saya kan lambat masuk SD, sedangkan dia gak pake TK. Tapi di saat umurnya yang akan 20 tahun ini, dia memutuskan untuk menikah. Wow.</p>
<p style="text-align:center;">Tiba-tiba saya memikirkan sebuah pernikahan. Bagaimana menikah di usia semuda itu? Itu yang selalu saya pikirkan. Bagaimana menjadi ibu di usia semuda itu? Padahal, resiko negatif kehamilan di usia muda sangat tinggi. Entahlah.</p>
<p style="text-align:center;">Saya meneguk coklat panas saya sebelum mendingin. Lidah saya terasa terbakar. Saya teringat waktu kecil, saya sering mengimpikan pernikahan yang meriah. Dengan gaun putih, kue tart besar, kado-kado, dan ucapan selamat. Hari pernikahan merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh semua orang, terutama anak perempuan yang merasa, bahwa itulah saat-saat dimana dia adalah wanita tercantik di dunia. Menjelang remaja, saya mulai menyusun ulang konsep pernikahan di mata saya. Bagi saya, pernikahan harus dilandasi cinta, saling pengertian, dan semua sifat-sifat ideal lainnya. Kini saat saya mulai bisa mengkritisi sesuatu, saya berpendapat pernikahan adalah perjanjian seumur hidup, pilihan subjek yang pertama dan terakhir dengan siapa kamu akan menghabiskan hidupmu. Pilihan tentang siapa yang kamu putuskan untuk kamu lihat pertama kali saat terbangun dari tidur, pilihan tentang nama siapa yang akan kamu tulis di belakang namamu, pilihan tentang siapa yang akan kamu lihat seharian, besok, lusa, dan hingga harimu habis, pilihan tentang siapa yang akan kamu pilihkan motif kemeja, pilihan tentang siapa yang akan kamu buatkan kopi di sore hari, pilihan tentang siapa yang akan kamu patuhi, dan pilihan tentang siapa yang akan memberikan pemikirannya padamu.</p>
<p style="text-align:center;">Untuk menjadi bagian dari hidup seseorang, saya tidak perlu sempurna. Ya, semua orang pasti setuju.</p>
<p style="text-align:center;">Karena ada yang berkata, pernikahan adalah proses melengkapi satu sama lain. Saya teringat pada seseorang yang pernah mengatakan, dia akan sempurna bagimu saat kamu bisa mengerti kekurangannya dan menerimanya, tidak hanya mengagumi kelebihannya.</p>
<p style="text-align:center;">Saya sering kecewa terhadap orang-orang yang sering mengingkari pilihannya sendiri. Mereka memilih seseorang hingga akhir semuanya, namun mereka semua menyerah pada suatu kondisi dan mereka akhirnya melupakan pilihan mereka. Apa yang terjadi? Pasti jawabannya, sudah tidak menemukan kecocokan. Hah, kecocokan apa yang kamu cari? Kamu hanya perlu menerima dia dan saling memahami, sesederhana itu. Begitukah? Ya.</p>
<p style="text-align:center;">Hujan sudah mereda dan minuman cokelat saya menghangat perlahan. Saya ucapkan selamat pada sepupu saya yang telah memutuskan pilihannya. Ya, selamat dan saya berbahagia juga. Ya,ya, saya juga akan segera menjahit kebaya saya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/candikala.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/candikala.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/candikala.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/candikala.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/candikala.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/candikala.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/candikala.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/candikala.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/candikala.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/candikala.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/candikala.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/candikala.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/candikala.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/candikala.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=candikala.wordpress.com&amp;blog=5295026&amp;post=42&amp;subd=candikala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://candikala.wordpress.com/2010/12/06/saat-hujan-dengan-cokelat-panas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d5cee8c584dcffe1ad8aa8ae2f1f5b1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">candikala</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Good Morning</title>
		<link>http://candikala.wordpress.com/2009/12/19/good-morning/</link>
		<comments>http://candikala.wordpress.com/2009/12/19/good-morning/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 13:13:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>candikala</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://candikala.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Good Morning Ya, good morning too. Aku pikir seseorang menyapaku. Hari masih hujan di luar, belum berhenti sejak tadi subuh. Aku terbangun pukul tiga dini hari tadi saat petir semakin menakutkan. Saat kusibakkan selimutku ternyata si penyiar berita pagi hari yang menyapaku dan ternyata televisi membiarkan dia menidurkanku sebelum sempat kumatikan. Gelap sekali di luar. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=candikala.wordpress.com&amp;blog=5295026&amp;post=31&amp;subd=candikala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Good Morning</p>
<p>Ya, good morning too. Aku pikir seseorang menyapaku. Hari masih hujan di luar, belum berhenti sejak tadi subuh. Aku terbangun pukul tiga dini hari tadi saat petir semakin menakutkan.</p>
<p>Saat kusibakkan selimutku ternyata si penyiar berita pagi hari yang menyapaku dan ternyata televisi membiarkan dia menidurkanku sebelum sempat kumatikan.</p>
<p>Gelap sekali di luar. Kuurungkan menyalakan lampu. Aku ingin masih berpikir bahwa saat ini masih malam. Aku mencari channel berita kesukaanku. BBC. Ketika aku mulai menyimak berita, hujan semakin deras.</p>
<p>Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi tetapi masih sangat gelap. Kuseret badanku dan kuputuskan melilitkan selimut ke badanku. Astaga untuk ke dapur saja aku harus membalut tubuhku agar hangat seperti bayi. Aku mulai mencari gelas kopi dan roti. Sejenak aku berpikir dimana aku meletakkan marmalade jeruk kesukaanku. Hanya dengan satu tangan aku membuka semua lemari-lemari penyimpanan di dapur kecilku. Saat aku sedang mencari dengan tololnya, telepon selularku berbunyi. Ini bukan nada pesan tapi panggilan.</p>
<p>Oo&#8230;pagi ini merupakan pagi di musim gugur tersuram yang pernah kuhadapi. Kumohon jangan panggil aku ke kantor hari ini. Ya, benar. Allison, si Nona Allison yang biasa dipanggil Ally, menyuruhku cepat-cepat bersiap dan ke kantor. Ada tulisan yang harus cepat kuedit. Oo, Tuhan. Aku putuskan mandi air hangat saja. Memilih baju hitam yang merupakan isolator yang baik sehingga menahan panas tubuh agar tetap hangat. Aku memakai dua lapis baju dan masih kutambahkan dengan coat diluar. Sedikit bedak, pupur, compact powder, apalah namanya, sedikit yang membuat pipiku merona, sedikit lipstick agar aku tidak pucat, dan sedikit wangi untuk menandakan kehadiranku. Bootku belum kubersihkan. Aku tidak peduli. Tasku yang besar memuat laptop, agenda, botol air mineral yang belum kuisi lagi, dompet, pulpen ungu yang kuselipkan di sebuah catatan kecil, tiket subway, lip balm yang akan habis, dan sebuah cermin kecil bergambar Pucca. Ya, ya aku tau aku cukup tua untuk memilih gambar Pucca di peralatanku bahkan walaupun hanya cermin kecil. Ayolah.</p>
<p>Aku buka singkap jendela ruanganku dan kulihat hujan masih juga lahir dari awan abu-abu. Payung. Ya, aku butuh payung. Kali ini aku ingat di mana aku menaruh payung. Tidak seperti marmalade jeruk itu.</p>
<p>Aku mengunci pintu dan mendengar apartemen di bawahku yang sangat riuh. Ayolah, hari ini hujan kenapa kalian begitu ribut. Pasangan suami istri di bawah apartemenku ini merupakan orang Islandia. Aku hanya dua kali bertemu dengan mereka. Sepertinya mereka ribut. Tapi mana aku tahu pasti. Mereka bicara dalam bahasa Islandia yang tidak kumengerti sama sekali. Nyonya Skujohorn, sang istri, akan melahirkan anak pertama mereka bulan depan. Aku rasa. Bagaimana aku tahu?Aku tidak punya alasan untuk bertemu dengan mereka. Mungkin saat kelahiran anak pertama mereka nanti aku akan coba untuk mengunjungi mereka.(akan dilanjutkan)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/candikala.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/candikala.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/candikala.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/candikala.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/candikala.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/candikala.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/candikala.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/candikala.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/candikala.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/candikala.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/candikala.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/candikala.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/candikala.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/candikala.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=candikala.wordpress.com&amp;blog=5295026&amp;post=31&amp;subd=candikala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://candikala.wordpress.com/2009/12/19/good-morning/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d5cee8c584dcffe1ad8aa8ae2f1f5b1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">candikala</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>percakapan dengan Daeng Becak</title>
		<link>http://candikala.wordpress.com/2009/12/19/percakapan-dengan-daeng-becak/</link>
		<comments>http://candikala.wordpress.com/2009/12/19/percakapan-dengan-daeng-becak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 13:04:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>candikala</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://candikala.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin saya dan rekan saya tiba-tiba ingin mengunjungi salah satu kawasan kota Makassar yang kami anggap sudah lama terlupakan akibat dari modernisasi. Walaupun kami sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di sini tapi kami bedua tetap antusias mengunjungi tempat tersebut. Terletak di kawasan kantor walikota, biasa disebut daerah Somba Opu, menjadi pusat perbelanjaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=candikala.wordpress.com&amp;blog=5295026&amp;post=29&amp;subd=candikala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Kemarin saya dan rekan saya tiba-tiba ingin mengunjungi salah satu kawasan kota Makassar yang kami anggap sudah lama terlupakan akibat dari modernisasi. Walaupun kami sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di sini tapi kami bedua tetap antusias mengunjungi tempat tersebut. Terletak di kawasan kantor walikota, biasa disebut daerah Somba Opu, menjadi pusat perbelanjaan oleh-oleh. Selain itu, kawasan ini menjadi tempat penjualan perhiasan emas, dan tempatnya yang dekat dengan Pantai Losari. Hal yang membuat saya betah berkeliling kawasan ini adalah selain tempatnya yang cukup bersih juga terdapat banyak toko-toko yang menjual berbagai macam souvenir khas Makassar dan beberapa bangunan yang mempertahankan arsitektur eropanya. Kami masuk dari toko ke toko mencari titipan teman saya yang memesan barang khas Makassar. Yang terjadi adalah saya dan teman saya tidak dapat menahan nafsu belanja melihat barang-barang yang tidak kalah bagusnya dibandingkan yang biasa dipajang di etalase-etalase toko mall. Tas khas kain toraja bahakan kain sarung, kaos yang desain-desainnya bagus,bermacam aksesoris seperti gelang, kalung,dan berbagai hiasan seperti lukisan, Barbie versi pakaian adat, dan bahkan piring dari kayu dengan ukiran khas Toraja. Tidak sadar kami keluar masuk toko, waktu berbuka pun tiba, teman saya yang non muslim justru mengingatkan saya untuk cepat-cepat berbuka. Akhirnya setelah lelah kami mendapatkan suatu tempat makan yang memiliki suasana dengan harga rata-rata. Sambil mengobrol dan menghabiskan pesanan, kami mengamati keadaan sekiar. Semakin malam, semakin banyak orang khususnya remaja yang berjalan ke arah Pantai Losari. Karena rumah kami membutuhkan waktu satu jam dari empat ini maka kami putuskan untuk segera pulang sebelum angkutan kota menuju daerah rumah kami semakin sedikit. Kami memutuskan naik becak untuk menuju tempat pemberhentian angkutan kota menuju daerah kami. Pada tukang becak pertama kami tidak sepakat dengan harganya, kami berjalan dan dicegat dengan seorang tukang becak yang kurang lebih berusia dua puluh lima tahun (teman saya bertaruh bahwa usia tukang becak itu tiga puluhan) dan langsung sepakat dengan harga yang kami tawarkan. Setelah naik, dia mulai melontarkan lelucon dengan logat khas Makassar, teman saya yang memang orang Makassar tiba-tiba bertanya pada si Daeng, nama panggilan yang biasa digunakan masyarakat sini, apakah si Daeng orang Madura. Dia menjawab bahwa dia berasal dari Kalimantan Timur, Tarakan, saya yang berasal dari Balikpapan langsung menanggapi dengan lontaran bahwa saya juga berasal dari Kalimantan Timur tepatnya Balikpapan, kemudian sepanjang perjalanan dia bercerita pada kami tentang petualangnnya dengan singkat. Dia dilahirkan di daerah Gowa kemudian tumbuh besar di Makassar, kemudian dia pergi merantau ke Tarakan selama lima tahun, ke pulau Nunukan selama empat tahun, kemudian pindah lagi ke Serawak. Kini dia menetap di Makassar sebagai tukang becak, walaupun dia ingin menetap di daerah Kalimantan namun nasib memaksanya untk hijrah ke Makassar ini. Dengan alasan dia ingin mencari udara baru setelah dia ditahan empat tahun dan enam bulan di Tarakan sebagai terdakwa pembunuhan pada seorang petugas. Bukannya kami takut, malah kami bermain-main bahwa kami akan teriak saat akan melalui kantor polisi namun, tentu saja, tidak kami lakukan. Saya dan teman saya bertatapan penuh kagum saat dia melanjutkan kisahnya. Setelah dia bebas, dia kembali ke tempat yang dia panggil rumah untuk kembali menemui anak dan istrinya, namun dia mendapatkan kenyataan bahwa sang istri dan anak kesayangannya telah lari ‘dibawa’orang selama dia di penjara. Dari situ, dia memtutuskan pindah mencari udara baru. Saat teman saya bertanya, apakah dia telah bertobat, dia tertawa dan berkata tidak dan berkata bahwa dia akan tetap melanjutkan petualangannya. Tidak terasa kami sampai di tempat pemberhentian angkutan kota jurusan rumah kami, saya dan teman saya sepakat untuk memberikan semacam uang lebih padanya walaupun kami telah menawar harga yang dia tawarkan sebelum kami naik, dengan cepat dia berkata terima kasih dan segera pergi menghilang meninggalkan saya dan teman saya terkagum-kagum dibuatnya. Bahkan saat naik angkutan kota tidak habis-habisnya kami mengaguminya dan terus berbicara tentangnya. Dia, orang yang paling kaya menurut kami, hidup dengan penuh petualangan, keberanian, dan berani melawan dunia meskipun dunia tidak sejalan dengan keinginannya. Kami berharap kami dapat menumpangi becaknya lagi dan mendapatkan percakapan yang sangat berharga sebagai pelajaran. Membuat hari petualangan kami semakin lengkap tidak hanya dengan bersenang-senang tapi pelajaran hidup dari seorang yang bukan hanya sebagai tukang becak.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/candikala.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/candikala.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/candikala.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/candikala.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/candikala.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/candikala.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/candikala.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/candikala.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/candikala.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/candikala.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/candikala.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/candikala.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/candikala.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/candikala.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=candikala.wordpress.com&amp;blog=5295026&amp;post=29&amp;subd=candikala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://candikala.wordpress.com/2009/12/19/percakapan-dengan-daeng-becak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d5cee8c584dcffe1ad8aa8ae2f1f5b1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">candikala</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>aku belum membuang buku catatanku.</title>
		<link>http://candikala.wordpress.com/2009/03/29/aku-belum-membuang-buku-catatanku/</link>
		<comments>http://candikala.wordpress.com/2009/03/29/aku-belum-membuang-buku-catatanku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 14:53:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>candikala</dc:creator>
				<category><![CDATA[linguae]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://candikala.wordpress.com/2009/03/29/aku-belum-membuang-buku-catatanku/</guid>
		<description><![CDATA[Dua hari lalu iseng-iseng aku bongkar kardus waktu pindahan yang gak sempat-sempat aku buka karena emang isinya buku-buku pelajaran SMA yang aku bawa karena aku pikir buku-buku itu pasti bakal berguna untuk SPMB tapi ternyata gak banyak yang aku pake ya..alasannya males bongkar ini itu. Tapi akhirnya aku bongkar juga eh..taunya nemu buku catatan pelajaran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=candikala.wordpress.com&amp;blog=5295026&amp;post=24&amp;subd=candikala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua hari lalu iseng-iseng aku bongkar kardus waktu pindahan yang gak sempat-sempat aku buka karena emang isinya buku-buku pelajaran SMA yang aku bawa karena aku pikir buku-buku itu pasti bakal berguna untuk SPMB tapi ternyata gak banyak yang aku pake ya..alasannya males bongkar ini itu. Tapi akhirnya aku bongkar juga eh..taunya nemu buku catatan pelajaran Bahasa Indonesia waktu kelas 3 SMA. Iseng-iseng aku buka..dan isinya ternyata ga cuma catatan pelajaran yang berkutat unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi, parafrase puisi, cara menulis lamaran pekerjaan, aturan-aturan imbuhan, dan lain-lainnya..tapi juga beberapa gambar, coretan yang dilakukan oleh Wendy, selain itu dia juga menulis nama yang ehm..ah, sudahlah. Sialan! Kali ini aku tidak akan terjerat untuk flash back lagi.<br />
Di lembar akhir, jauh dari semua catatan aku temukan sebuah cerpen yang entah kenapa, asli aku lupa banget, kenapa bisa ada di halaman belakang. Aku juga lupa-lupa inget kapan aku tulis cerpen, alasannya apa, dan darimana inspirasinya dateng.<br />
Setelah aku merasa cukup untuk menghadapi laporan seharian penuh ini, kali ini di atas tempat tidur ditemani dengan Brian May yang menyanyikan Too Much Love Will Kill You jadi pengen nulis ulang cerpen ini.</p>
<p>                    Mata Shakuntala</p>
<p>Seperti hari-hari sebelumnya aku selalu tiba paling awal di ruang kelasku. Rumahku cukup jauh dari sekolah sehingga aku harus berangkat seawal mungkin.<br />
Masih kuingat, hari itu aku sedang menyapu ruang kelasku tiba-tiba seorang anak perempuan yang belum pernah kulihat masuk terburu-buru dan segera mengambil tempat duduk tepat disebelah bangkuku. Kelasku memang berjumlah hanya tiga puluh tujuh siswa dan aku lebih memilih duduk sendiri saja. Kulihat dengan seksama anak yang baru masuk itu. Dia terlalu asing bagiku. Matanya. Ada yang aneh dengan matanya. Entah apa itu.<br />
Satu per satu teman-temanku datang dan dari jauh kuperhatikan, mereka mulai mengerebungi si anak baru itu. Ketika bel berbunyi maka kerumunan itu pun bubar. Aku duduk dengan segan disampingnya. Baru kali ini aku merasa asing dengan bangku yang telah kutempati selama satu semester ini.<br />
Aku mencoba memulai percakapan dengannya tapi selalu saja gagal. Hingga akhirnya, dia tiba-tiba berkata, “Seruni, siap-siap” Seruni? Bagaimana dia tahu namaku? Apa maksudnya dengan siap-siap? “Seruni!” terdengar suara Bu Julia mengagetkanku. “Kerjakan nomor enam di depan.” Masih dengan perasaan heran bercampur kaget, aku menyelesaikan tugas yang diberikan Bu Julia padaku. Saat aku kembali duduk kulihat senyuman samar gadis asing itu. Akhirnya, kuberanikan diri untuk berkenalan dengan gadis itu, “Tala, Shakuntala” dia menyebut namanya. Itulah awal perkenalanku dengannya.<br />
Shakuntala dan aku tidak pernah berpisah. Kami menjadi sahabat dekat bahkan bayangan satu sama lain. Yang membuatku kaget adalah bahwa Tala bisa meramal. Tapi dia ingin menyembunyikan kelebihannya itu dari siapa pun.<br />
Pantas saja waktu hari pertama dia tahu kalau aku bakal dipanggil ke depan.<br />
Pernah kutanya mengapa dia menyembunyikan kelebihannya itu, dia menjelaskan bahwa apabila orang mengetahui kelebihannya maka dia akan dimanfaatkan oleh siapapun. Di sekolahnya dulu teman-temannya selalu memaksa untuk meramal apapun yang berdampak buruk pada fisik dan batinnya. Dia selalu merasa capek dan tertekan setiap sehabis meramal. Itu pula salah satu alasan dia pindah ke sekolahku. Sejak itu aku  tidak berani menyinggung kelebihannya.<br />
Di lain kesempatan aku bertanya padanya apa yang membuatku dia percaya padaku untuk memberitahu tentang kemampuannya meramal. Dia menjawab dengan tenang, “Kamu lupa aku bisa meramal?” yang kubalas dengan senyuman.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/candikala.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/candikala.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/candikala.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/candikala.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/candikala.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/candikala.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/candikala.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/candikala.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/candikala.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/candikala.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/candikala.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/candikala.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/candikala.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/candikala.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=candikala.wordpress.com&amp;blog=5295026&amp;post=24&amp;subd=candikala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://candikala.wordpress.com/2009/03/29/aku-belum-membuang-buku-catatanku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d5cee8c584dcffe1ad8aa8ae2f1f5b1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">candikala</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://candikala.wordpress.com/2009/03/23/15/</link>
		<comments>http://candikala.wordpress.com/2009/03/23/15/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 14:48:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>candikala</dc:creator>
				<category><![CDATA[linguae]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://candikala.wordpress.com/2009/03/23/15/</guid>
		<description><![CDATA[29 Oktober 2006 Apakah kata-kataku sudah habis dari perasalannya? Ketika dia hanya selalu menyajikan secuplik yang membuatku terbentur Dalam gelap aku memeluk erat diammu Kuhentikan semua gaung yang erat dan kokoh Sekali lagi tentangmu Mungkin akan aku bayar di senja lain Atau tidak akan aku jemput senja yang sama-sama kita janjikan. *** Kala itu senja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=candikala.wordpress.com&amp;blog=5295026&amp;post=15&amp;subd=candikala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>29 Oktober 2006</p>
<p>Apakah kata-kataku sudah habis dari perasalannya?<br />
Ketika dia hanya selalu menyajikan secuplik yang membuatku terbentur </p>
<p>Dalam gelap aku memeluk erat diammu</p>
<p>Kuhentikan semua gaung yang erat dan kokoh<br />
Sekali lagi tentangmu</p>
<p>Mungkin akan aku bayar di senja lain</p>
<p>Atau tidak akan aku jemput senja yang sama-sama kita janjikan.</p>
<p>***</p>
<p>Kala itu senja masihlah kering<br />
Tangga-tangga rintih pun masih penuh serakan daun</p>
<p>Laut juga masih sama<br />
Biru<br />
Masih berdebur-debur<br />
Juga</p>
<p>Mana senja yang kau janjikan?</p>
<p>***</p>
<p>Aku masih berbicara tentang dia<br />
Ketika aku mulai menyeruput hangatnya<br />
Sedikit demi sedikit</p>
<p>Sentakan halus membuatku kelu<br />
Untuk meneruskan semuanya</p>
<p>Cuma disatu senja itu</p>
<p>Dan besok menjadi senja yang asing<br />
		Lagi</p>
<p>***</p>
<p>Aku hitung senja yang telah aku korbankan untukmu<br />
Bukan<br />
Senja itu sengaja kulahirkan<br />
Dari rahim keriuhanku<br />
Lalu kutebak<br />
Akan kau jemput<br />
Yang kukira lagi<br />
Pasti<br />
Kau sambut<br />
Dengan suara berat<br />
Khasmu<br />
***<br />
Kita mungkin lengah<br />
Seperti biasa</p>
<p>Pagi yang sama<br />
Sempat aku tunggu<br />
Saat mulai riak-riak yang mengganggu tidurmu semalam</p>
<p>Kapan?<br />
	Saat senja hanya dengan jingganya yang menggantung</p>
<p>Atau aku saja?<br />
Sekali lagi kamu tidak ikut.<br />
***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/candikala.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/candikala.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/candikala.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/candikala.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/candikala.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/candikala.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/candikala.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/candikala.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/candikala.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/candikala.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/candikala.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/candikala.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/candikala.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/candikala.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=candikala.wordpress.com&amp;blog=5295026&amp;post=15&amp;subd=candikala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://candikala.wordpress.com/2009/03/23/15/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d5cee8c584dcffe1ad8aa8ae2f1f5b1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">candikala</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Hujan</title>
		<link>http://candikala.wordpress.com/2009/03/23/ketika-hujan/</link>
		<comments>http://candikala.wordpress.com/2009/03/23/ketika-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 14:44:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>candikala</dc:creator>
				<category><![CDATA[linguae]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://candikala.wordpress.com/2009/03/23/ketika-hujan/</guid>
		<description><![CDATA[Hujan belum berhenti. Gerimisnya serasa mengiris setiap jengkal tanah. Aku ingat cerita tentang seorang gadis yang selalu menghitung hujan yang diceritakan oleh ibuku hingga akhirnya gadis itu mati saat mencoba menemukan bilangan yang tepat untuk hujan yang telah melewati banyaknya angka di dunia. Hujan melebihi banyakanya angka. Banyaknya manusia. Banyaknya cacing. Banyaknya intan. Hujan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=candikala.wordpress.com&amp;blog=5295026&amp;post=14&amp;subd=candikala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hujan belum berhenti. Gerimisnya serasa mengiris setiap jengkal tanah. Aku ingat cerita tentang seorang gadis yang selalu menghitung hujan yang diceritakan oleh ibuku hingga akhirnya gadis itu mati saat mencoba menemukan bilangan yang tepat untuk hujan yang telah melewati banyaknya angka di dunia. Hujan melebihi banyakanya angka. Banyaknya manusia. Banyaknya cacing. Banyaknya intan.</p>
<p>Hujan yang dulu kurasakan di kampungku ternyata masih sama rasanya saat aku rasakan hujan di negeri asing ini.</p>
<p>Aku takut mungkin hujan tidak seramah saat aku masih anak-anak. Saat aku masih bisa telanjang di bawah hujan. Saat aku masih dipanggil bukan dengan nama depanku. Saat aku masih belajar untuk tidak menyerah pada satu lipatan yang terlewat. Saat aku masih suka dipangku sebelum tidur oleh ibuku.</p>
<p>Aku keluarkan barang-barang yang aku bawa dari Indonesia. Mencoba menatanya di rumah kami yang hampir berdinding putih semua. Padahal sebelum menikah, aku memiliki angan-angan untuk mempunyai rumah yang berwarna kuning dan memiliki warna cat yang berbeda pada setiap ruangan. Tapi angan-anganku tidak bisa terpenuhi di sini. Aku takut mengutarakannya pada suamiku. Dia pasti akan menyetujui tapi tetap saja aku tidak berani menyatakannya.</p>
<p>Akhir-akhir ini aku perhatikan dia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan dia hanya tersenyum tipis dan hanya menggenggam tanganku sesaat sambil menatap wajahku setiap aku antarkan kopi ke ruangannya setelah itu dia sibuk mengetik atau membuka file-file pekerjaannya. </p>
<p>Aku? Pekerjaan yang aku impikan kutinggalkan di Indonesia. Orang tuaku sempat ragu akan keputusanku dengan meninggalkan pekerjaan yang dikatakan sangat layak bagiku orang sepertiku. Fasilitas dan jaminan seumur hidup dari pekerjaanku rela aku tinggalkan demi mengikuti suamiku yang bukan warga negara Indonesia. Aku tidak pernah menyesal dan aku tidak mau menyesal. </p>
<p>Aku belum menjadi seorang ibu. Dia mengerti ketakutanku. Aku katakan padanya aku belum bisa menyesuaikan diri. Aku mendengar dari teman-temanku yang juga seperti aku, bahwa mengandung dan melahirkan tanpa ibu disamping sangat merepotkan.</p>
<p>Aku pergi ke dapur. Menuang segelas teh untuk diriku sendiri. Kubuka tirai jendela dapur dan kubiarkan cahaya lampu halaman belakang rumah kami masuk. </p>
<p>Aku menghirup teh yang diberikan ibuku saat aku akan kembali di sini. Bagiku, teh disini sangat berbeda dengan teh Indonesia. Aromanya, uapnya, rasanya, hingga wajah-wajah pemetik teh di perkebuanan teh terlintas dalam pikiranku.</p>
<p>Aku biarkan televisi dapur menyiarkan berita tentang negeri ini. Aku masih dalam tahap belajar untuk mempelajari bahasa nasional mereka. Suamiku mengajari dua bahasa sekaligus padaku yang sering digunakan di negera ini. Tapi aku memilih untuk mempelajari lebih banyak bahasa yang digunakan keluarga suamiku. Semanya tidak mudah. Saat aku diperkenalkan dengan teman-temannya, aku menggunakan bahasa resmi lainnya. </p>
<p>Aku menghirup teh untuk yang kedua kali. Mengingatkanku pada teman-temanku. Teman-temanku saat di taman bermain, saat di sekolah dasar, saat di sekolah menengah pertama, saat sekolah menengah atas, saat di universitas, saat organisasi, saat aku mengambil magister, saat aku bekerja, dan aku mulai berusaha terbiasa untuk mengingat nama teman-teman baruku di sini sekaligus mengingat nama keluarga mereka di sini. Aku masih sering salah mengucapkan nama mereka. Jika aku menceritakan mereka, suamiku selalu membetulkan ejaan-ejaan nama mereka yang selalu membuat dia tersenyum dahulu. Waktu aku memutuskan meninggalkan semuanya, aku teringat beberapa temanku yang terkejut dan tidak berhenti-hentinya mengingatkanku untuk memikirkan ulang apa yang akan aku putuskan, menikah dan pergi jauh. Hanya beberapa temanku justru mendukungku, mereka tidak lagi terkejut karena dia mengetahui karakterku, suka mengambil risiko dan mencoba semuanya. Hujan semakin deras di luar. Pohon palem di pinggir jalan mengikuti arah angin dan lampu jalan yang berkurang terangnya akibat hujan yang tidak mau mengalah. </p>
<p>Aku menghirup teh untuk ketiga kalinya, kali ini aku meneguk sebanyak dua kali. Diam-diam aku teringat pada seseorang yang pernah membawakanku payung pada waktu hujan. Kala itu, aku baru saja selesai wawancara dari sebuah kantor yang membuka lowongan pekerjaan. Dengan map yang penuh hasil penelitianku dan curriculum vitae aku tetap bersikeras untuk menunggu bis di seberang jalan. Saat aku mulai menerobos jalan dan memeluk erat mapku tiba-tiba aku merasa hujan tidak lagi menerjangku. Aku tengadahkan kepalaku dan kulihat dia memegang payung abu-abu sambil tersenyum dan berkata untuk menyebrag bersama. Di halte saat itu hanya ada tiga orang anak sekolah yang juga menunggu bis. Dia membuka percakapan. Menanyakan tujuanku dan sebab aku bersikeras menyebrang. Aku berterima kasih sebelumnya, aku mau ke kampus karena ada kelas sore untuk magisterku, dan aku akan terlambat. Jawabanku membuatnya mengangguk tanda mengerti namun tidak untuk hujan. Hujan semakin deras dan semakin menerjang ke arah kami berdiri walaupun kami sudah mundur dan menempel pada dinding halte. Dia berkata bahwa tidak mungkin untukku tetap ke kampus dengan kondisi yang basah seperti ini dan sore yang sangat gelap. Akhirnya aku putuskan untuk menunggu hujan berhenti. Mengabaikan apa yang semua kutulis di agendaku pada hari ini. Kami berbicara tentang banyak hal. Film, musik, buku, hal-hal remeh yang kami benci, dan hal lainnya. Kami sama-sama menyukai senja namun alasan yang berbeda. Begitu banyak percakapan dalam satu kali hujan waktu itu. Saat hujan berhenti dan bis yang kutunggu pun datang kami pun memutuskan untuk berpisah dan berjanji akan bertemu lagi. Kami bertemu, mengobrol, beranjak pergi, dan berjanji untuk bertemu kembali. Begitu seterusnya. Hingga suatu hari, aku tidak bisa memenuhi janjiku untuk bertemu lagi karena saat yang bersamaan aku harus pergi keluar kota karena pekerjaanku. Kita mengganti tanggal kami bertemu. Ketika aku dalam perjalanan pulang kembali, sehari sebelumnya, dia mengirimkan pesan yang tidak dapat kupahami hingga sekarang. Dia tidak ingin menemuiku. Aku bersikeras. Aku butuh alasan. Aku butuh penjelasan. Aku berkata tetap menunggunya. Di tempat biasa. Dia tidak pernah datang. Dia mengganti nomor telepon dan menghilang. Aku berhenti menunggunya. </p>
<p>Aku reguk dan aku hirup tehku yang keempat kalinya. Tehku mulai mendingin. Dan saat yang bersamaan aku rasakan setetes air yang hangat menuruni pipiku. Aku teringat pada tangan dingin yang sealu mengusap air ini setiap kali turun. Setiap aku marah. Setiap aku kecewa pada kehidupan. Setiap aku merasa semuanya salah. Tangannya yang berbau rokok dan kurus. Deru napasnya yang satu-satu dan tenang saat aku terisak-isak. </p>
<p>Aku memutuskan untuk menghabiskan tehku kali ini. Kudengar langkah suamiku memasuki dapur. Cepat-cepat kuhapus air mataku, kubetulkan rambutku yang kujepit, dan kubetulkan cardiganku. Dia masuk dan bertanya apakah aku baik-baik saja. Dengan senyum aku katakan padanya aku hanya kedinginan. dia hanya tersenyum, memelukku hangat dari belakang, dan berkata bahwa aku akan terbiasa dan cuaca akan kembali normal besok. Aku beranjak. Berjalan dengannya. Dan meninggalkan teh yang tersisa mendingin sebelum hirupanku yang kelima. Ya, cuaca akan kembali normal besok.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/candikala.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/candikala.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/candikala.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/candikala.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/candikala.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/candikala.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/candikala.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/candikala.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/candikala.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/candikala.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/candikala.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/candikala.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/candikala.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/candikala.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=candikala.wordpress.com&amp;blog=5295026&amp;post=14&amp;subd=candikala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://candikala.wordpress.com/2009/03/23/ketika-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d5cee8c584dcffe1ad8aa8ae2f1f5b1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">candikala</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kadar Kader yang Bikin Keder</title>
		<link>http://candikala.wordpress.com/2008/11/08/kadar-kader-yang-bikin-keder/</link>
		<comments>http://candikala.wordpress.com/2008/11/08/kadar-kader-yang-bikin-keder/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Nov 2008 23:03:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>candikala</dc:creator>
				<category><![CDATA[linguae]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://candikala.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Saya minta maaf pada pihak-pihak yang tersinggung pada hari Rabu tepatnya tanggal 5 November 2008 kemarin.Tapi memang sengaja sih. Wajar saja bagi mereka yang tersinggung jika memang salah ya saya ucapkan selama tersinggung. Begini kronologisnya. Di kampus saya ada tradisi untuk para mahasiswa baru. Tradisinya macam-macam dengan misi MENGKADER PARA MAHASISWA BARU. Entah yang saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=candikala.wordpress.com&amp;blog=5295026&amp;post=11&amp;subd=candikala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="color:red;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<div>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td style="background-color:transparent;border:#e0dfe3;padding:0;" align="left" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="color:red;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Saya minta maaf pada pihak-pihak yang tersinggung pada hari Rabu tepatnya tanggal 5 November 2008 kemarin.Tapi memang sengaja sih. Wajar saja bagi mereka yang tersinggung jika memang salah ya saya ucapkan selama tersinggung.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="color:red;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="color:red;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Begini kronologisnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="color:red;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="color:red;font-family:Arial;">Di kampus saya ada tradisi untuk para mahasiswa baru. Tradisinya macam-macam dengan misi </span><span style="font-family:&quot;">MENGKADER PARA MAHASISWA BARU</span><span style="color:red;font-family:Arial;">. Entah yang saya tahu, pengkaderan yang saya dapat dari jurusan saya benar-benar membuat saya terkeder-keder lah…selama setahun.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="color:red;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Lanjut, nanti saya akan bercerita tentang saya. Salah satu fakultas di kampus saya punya tradisi untuk mabanya-istilah untuk mahasiswa baru-yaitu supaya memakai baju hitam putih selama setahun dilengkapi pita-pita di lengan mereka. Katanya lagi sih untuk, identitas. Ada juga fakultas yang bertradisi memakai baju ungu selama setahun, namun banyak jurusan yang memilih pita sebagai identitasnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="color:red;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Saya sebenarnya merasa risih juga melihat tradisi itu. Tapi kalau dipikr-pikir, untuk apa risih ya? Lha wong gak ada hubungannya sama saya kok. Bukan saya juga yang dikader. Tapi saya merasa empati saja. Saya tahu rasanya. Itu intinya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="color:red;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Akhirnya, saya dan salah seorang teman saya yang memiliki kadar kemurian kegilaan yang kurang lebih sama dengn saya memutuskan memakai baju hitam putih yang telah sangat identik di kepala setiap mahluk di kampus saya, bahwa baju hitam putih selalu identik dengan anak dari fakultas A, sebut saja begitu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="color:red;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Hingga tibalah saat kami datang di kampus dengan tema baju hitam putih dan juga pita yang kita ikatkan di pinggang yang berwarna hitam putih. Respon pertama dari mereka yang maba-mereka suka duduk berkumpul di depan jalan masuk kampusnya-yang terlihat bingung, yah mungkin mereka pikir jurusan apa lagi ini???lalu selanjutnya menuju kelas, respon yang diperoleh adalah berupa sentilan yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="color:blue;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Kenapa kalian berpakaian seperti anak dari fakultas A saja? Sebesar 45%</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Wah, kayak mau seminar atau ujian meja saja, kapan makan-makanya nih?Sebesar 35%</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Dasar gila kalian dua orang ini!!Ada-ada saja?Sebesar 15%</span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Dan lain-lain (termasuk hanya geleng-geleng kepala, melihat tanpa berkedip,berbisik dengan teman disampingnya lalu melihat ke arah kami, dsb)Sebesar 5%</span></span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="color:red;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="color:red;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Bukan tanpa alasan kami melakukan hal ini. Sebenarnya, bagi mereka yang paham ada maksud yang ingin kami sampaikan dalam misi via fashion kami kali ini. Pertama, kami ingin menyampaikan bahwa kami masih menjunjung tinggi kebebasan berekspresi termasuk warna apa yang kami pakai, model apa yang kami pakai. Kedua kami ingn membuktikan apakah warna ini masih milik umum, ternyata di kampus saya bagi banyak orang, dua warna ini dalam pakaian telah menjadi suatu ciri khas bagi anak-anak A. Untungnya belum dipatenkan. Ketiga, kami menolak semua ketidaksetaraan. Terserah untuk yang ini mereka mau bilang apa?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="color:red;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="color:red;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Mengenai pita  yang memang kami pilih hitam putih kami sampaikan bahwa kami tidak mengikuti siapapun darimana pun.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="color:red;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="color:red;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Perjalanan selama setahun pertama memang membuat saya wah..kalimat apa yang cocok ya??yang tidak menyinggung pihak manapun namun sesuai dengan yang sebenarnya?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="color:red;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Saya hanya mengatasnamakan pribadi lho ya. Jangan Tanya identitas saya. Jangan Tanya pengkaderan saya, biar saya simpan saja sendiri. Sekali lagi, jangan tanya saya anak mana. Nilai saja tulisan saya.</span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/candikala.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/candikala.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/candikala.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/candikala.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/candikala.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/candikala.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/candikala.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/candikala.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/candikala.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/candikala.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/candikala.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/candikala.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/candikala.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/candikala.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=candikala.wordpress.com&amp;blog=5295026&amp;post=11&amp;subd=candikala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://candikala.wordpress.com/2008/11/08/kadar-kader-yang-bikin-keder/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d5cee8c584dcffe1ad8aa8ae2f1f5b1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">candikala</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ketemu di folder lama*tulisan waktu SMA*</title>
		<link>http://candikala.wordpress.com/2008/11/03/ketemu-di-folder-lamatulisan-waktu-sma/</link>
		<comments>http://candikala.wordpress.com/2008/11/03/ketemu-di-folder-lamatulisan-waktu-sma/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Nov 2008 11:18:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>candikala</dc:creator>
				<category><![CDATA[linguae]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://candikala.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Debu di sandal putihku membuat kakiku lengket. Rambutku juga telah terurai sedikit demi sedikit dari jepit biru yang kubeli bersama sahabat-sahabatku setahun yang lalu. Sekali lagi kutatap matahari yang terhalang dari kabut asap dan tampak seperti buah jeruk, bulat dan oranye, tanpa cahaya yang berpendar di sekelilingnya. Aku sudah mau pulang ketika Wendy mulai melambaikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=candikala.wordpress.com&amp;blog=5295026&amp;post=8&amp;subd=candikala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="2" align="left">
<tbody>
<tr>
<td style="background-color:transparent;border:#e0dfe3;padding:0;" align="left" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:blue;font-family:Arial;" lang="EN-ZW"><span style="font-size:small;">Debu di sandal putihku membuat kakiku lengket. Rambutku juga telah terurai sedikit demi sedikit dari jepit biru yang kubeli bersama sahabat-sahabatku setahun yang lalu. Sekali lagi kutatap matahari yang terhalang dari kabut asap dan tampak seperti buah jeruk, bulat dan oranye, tanpa cahaya yang berpendar di sekelilingnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:blue;font-family:Arial;" lang="EN-ZW"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:blue;font-family:Arial;" lang="EN-ZW"><span style="font-size:small;">Aku sudah mau pulang ketika Wendy mulai melambaikan tangan dan menyebrangi jalan. Aku menunduk sedikit ketika memasuki angkot yang hanya diisi oleh empat orang. Angkot mulai meninggalkan deru saat aku mulai nyaman dengan dudukku. Sekali lagi aku mendengar orang mengeluh tentang cuaca saat ini. Yang tidak dapat dipastikan karena semua langit tampak abu-abu dengan asap yang sekalipun cahaya matahari tidak dapat menembusnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:blue;font-family:Arial;" lang="EN-ZW"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:blue;font-family:Arial;" lang="EN-ZW"><span style="font-size:small;">Angkot yang kutumpangi mulai memasuki daerah pelabuhan. Dengan pesisir yang mulai surut. Angkot pun tiba-tiba berhenti disusul seorang ibu dan anaknya, yang dapat kupastikan baru saja selesai mengeriting rambutnya karena bau atau wangi vitamin rambutnya menyeruap memenuhi atmosfir di angkot itu. Berjalan sedikit sekitar sepuluh meter. seorang ibu menghentikan angkot ini dan segera dia menggiring keempat anaknya yang masih kecil semua untuk masuk dan segera saja semua ruang kosong di angkot ini penuh oleh mereka dan riuh yang mereka ciptakan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:blue;font-family:Arial;" lang="EN-ZW"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:blue;font-family:Arial;" lang="EN-ZW"><span style="font-size:small;">Ternyata ibu itu juga menggendong anaknya yang aku pastikan yang kelima yang masih berumur sekitar delapan hingga sepuluh bulan. Aku mulai mengamati satu per satu mereka. Yang pertama, seorang perempuan berumur sekitar sembilan tahun, rambutnya panjang, tipis, kemerah-merahan, gigi-giginya nampak besar dan jarang, kulitnya tampak gelap kecokletan dan dia terus mengoceh mengenai kapal yang membawa ayahnya yang baru saja berangkat. Yang kedua laki-laki, berumur sekitar delapan tahun, rambutnya dipotong cepak, dengan satu dua luka baret di tangannya yang mungkin dikarenakan ia yang aku pikir sering main di mana saja, dia memakai kemeja oranya kecokletan dan celana jeans, dia tidak pernah menyahut atau menanggapi riuh semua saudaranya yang dia lakukan hanya menatap keluar dari jendela di sampingnya. Anak ibu muda itu yang ketiga juga seorang laki-laki yang bergigi jarang, umurnya mungkin sekitar enam tahun, air matanya belumlah kering, dengan kaos <em>power rangers</em> warna biru laut dia menanggapi serius ocehan kakaknya yang kali ini telah berganti topik, kali ini mengenai baju baru untuk lebaran, masih dengan sedikit terisak dia mengamini ocehan kakaknya dengan mengatakan bahwa dia ingin sandal baru untuk lebaran yang modelnya <em>hommyped</em>. Adiknya yang merupakan anak keempat, mungkin masih lima tahun, tidak ingin kalah dengan saudara-saudara tuanya, dia juga menginginkan sepatu yang dia sebut sepatu ada bunyinya dan juga berlampu kelap-kelip di bawahnya, dia tidaklah terlalu berbeda dengan si sulung, dia juga bergigi jarang tetapi kecil-kecil, rambutnya yang juga tipis kemerah-merahan dikuncir erat dengan karet sayur, tangannya masih kotor dan terlihat lelehan cokelat di tangan kanan maupun kirinya, sembari diam-diam dia menatapku penasaran. Sedangkan disampingku sang Ibu muda yang tengah memangku bayinya hanya mengangguk perlahan sembari tersenyum. Bayinya yang kuketahui namanya dari si sulung saat menggodanya, Diva, mulai menarik-narik tas kanvas hitam yang ada di pangkuanku. Sesaat aku ragu tapi segera kuraih tangan mungilnya dan kutatap dalam-dalam mata besar si bayi Diva yang terus menatap ingin tahu padaku. Si Ibu Muda menoleh dan tersenyum padaku, aku sadar si bayi Diva mempunyai mata yang sangat besar, pipinya sangat cekung, ditambah lagi rambutnya yang tipis kemerah-merahan membuat kulit kepalanya masih terlihat samar. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:blue;font-family:Arial;" lang="EN-ZW"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:blue;font-family:Arial;" lang="EN-ZW"><span style="font-size:small;">Tidak terasa angkot telah sampai di persimpangan biasa aku berhenti. Aku merasa punggungku lekat ditatap oleh mereka, si Ibu Muda dan anak-anaknya. Aku telah sampai dan mereka harus terus melanjutkan perjalanannya untuk sampai ke rumah mereka hampir seperti aku yang harus berjalan sedikit untuk mencapai rumahku di sore yang akan semakin menyembunyikan matahari jeruk itu lagi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:blue;font-family:Arial;" lang="EN-ZW"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:blue;font-family:Arial;" lang="EN-ZW"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:blue;font-family:Arial;" lang="EN-ZW"><span style="font-size:small;">16 Oktober 2006</span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/candikala.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/candikala.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/candikala.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/candikala.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/candikala.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/candikala.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/candikala.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/candikala.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/candikala.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/candikala.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/candikala.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/candikala.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/candikala.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/candikala.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=candikala.wordpress.com&amp;blog=5295026&amp;post=8&amp;subd=candikala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://candikala.wordpress.com/2008/11/03/ketemu-di-folder-lamatulisan-waktu-sma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d5cee8c584dcffe1ad8aa8ae2f1f5b1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">candikala</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>simplex</title>
		<link>http://candikala.wordpress.com/2008/10/25/simplex/</link>
		<comments>http://candikala.wordpress.com/2008/10/25/simplex/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Oct 2008 21:45:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>candikala</dc:creator>
				<category><![CDATA[linguae]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://candikala.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Saturday Night Fever, You In it?   Apa sih Saturday Night Fever? Haha..ini sebutan saya untuk bermalas-malasan di malam sabtu. Mulai dari paginya hanya melakukan yang perlu-perlu saja. Setelah itu megecek agenda. Apa yang harus dilakukan. Mengerjakan laporan, jurnal, tugas pendahuluan lab, atau power point untuk diskusi hari senin… terlalu malas untuk itu semua.   [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=candikala.wordpress.com&amp;blog=5295026&amp;post=3&amp;subd=candikala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div></div>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">Saturday Night Fever, You In it?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">Apa sih Saturday Night Fever? Haha..ini sebutan saya untuk bermalas-malasan di malam sabtu. Mulai dari paginya hanya melakukan yang perlu-perlu saja. Setelah itu megecek agenda. Apa yang harus dilakukan. Mengerjakan laporan, jurnal, tugas pendahuluan lab, atau power point untuk diskusi hari senin… terlalu malas untuk itu semua.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">Get your free time…</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">Hari ini saya hadiahi diri saya film Persepolis. A really very right choice.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">Marji kecil dan percaya bahwa dia adalah nabi. Bercakap-cakap dengan Tuhan sebelum tidur. Menganggap bahwa dia pembawa kedamaian. Mengidolakan Bruce Lee. Semuanya indah. Tapi memburuk saat terjadi revolusi Iran. No party, no alcohol, and no art. Yang membuat orang tuanya mengirim di ke Vienne, Austria. Membuat dia harus beradaptasi dan belajar mencintai dari mana dia berasal. Membuat dia jatuh cinta. Membuat dia patah hati. Membuat dia terluntang-lantung hingga akhirnya terkena penyakit paru yang parah dan kembali ke Iran dengan janji bahwa orang tuanya tidak boleh menanyakan apapun tentangnya selama dia di Vienne, Austria.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">Saya tidak pernah mengalami waktu konflik semengerikan itu. Saya harus besyukur. Ya, saya sudah bersyukur. Berapa mimpi yang dibunuh oleh sebuah konflik? Berapa nyawa yang hilang demi sebuah gagasan seseorang. Akarnya dari seseorang, kan?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">Yang membat saya tersenyum adalah saat Marji dan keluarganya tetap bisa bersenang-senang selama konflik. Setidaknya jika mati, mereka tidak mati konyol menunggu di basement untuk di bom. Marji tetap bisa mendengarkan Iron Maden. Teman-temannya juga masih bsa mendengarkan ABBA, Bee Gees. Orang tuanya juga masih bisa mengonsumsi alcohol. Dengan pamannya yang meracik di laboratorium bawah tanah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">Yeah, live your life.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">Wow..apakah saya semakin menyimpang dari Saturday Night Fever?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;">Yeah..seems party just begin now…so live your life…like me or like Marji.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"> </p>
<div></div>
<p><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"> </p>
<p> </p>
<p></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/candikala.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/candikala.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/candikala.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/candikala.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/candikala.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/candikala.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/candikala.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/candikala.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/candikala.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/candikala.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/candikala.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/candikala.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/candikala.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/candikala.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=candikala.wordpress.com&amp;blog=5295026&amp;post=3&amp;subd=candikala&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://candikala.wordpress.com/2008/10/25/simplex/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d5cee8c584dcffe1ad8aa8ae2f1f5b1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">candikala</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
